Warga masyarakat berduyun-duyun ke Makam Mbah Sabar Drono Gisikdrono di Kelurahan Gisikdrono , Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (19/03). Tradisi Nyadran yang dilakukan rutin tiap tahun.
Diikuti oleh Muspikel, dan warga masyarakat.
Dalam acara nyadran tsersebut dilaksanakan santunan, sedekah bumi serta berdoa dan tahlil bersama yang dipimpin tokoh agama Kelurahan Gisikdrono. Warga masyarakat menggelar selamatan, bahwa tradisi Nyadran dimaksudkan untuk mendoakan arwah leluhur. Tradisi nyadran yang berkembang saat ini adalah bentuk pelestarian kegiatan dari jaman kademangan.

Nyadran atau Sadranan adalah tradisi yang dilakukan oleh orang jawa yang dilakukan di bulan Sya’ban (Kalender Hijriyah) atau Ruwah (Kalender Jawa) untuk mengucapkan rasa syukur yang dilakukan secara kolektif dengan mengunjungi makam atau kuburan leluhur yang ada di suatu kelurahan atau desa. Nyadran dimaksudkan sebagai sarana mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia, mengingatkan diri bahwa semua manusia pada akhirnya akan mengalami kematian, juga dijadikan sebagai sarana guna melestrikan budaya gotong royong dalam masyarakat sekaligus upaya untuk dapat menjaga keharmonisan bertetangga melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama).
Tradisi Nyadran terdiri dari berbagai kegiatan, yakni

Tata cara pelaksanaan tradisi nyadran tidak hanya sekedar ziarah ke makam leluhur tetapi juga terdapat nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, menjalin silaturahmi, dan saling berbagi antar masyarakat di suatu lingkungan. Tradisi Nyadran dilakukan dengan kearifan lokal masing-masing sehingga dibeberapa tempat terdapat perbedaan-perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya. Dalam perjalanannya terdapat pengembangan-pengembangan dalam prosesi Nyadran yakni dengan memasukkan unsur-unsur budaya, salah satunya yakni dengan menampilkan bebagai kesenian khas daerah tersebut sebagai unsur pertunjukan. Nyadran termasuk sebagai salah satu tradisi menjelang datangnya bulan Ramadan.

t;Warga masyarakat berduyun-duyun ke Makam Mbah Sabar Drono Gisikdrono di Kelurahan Gisikdrono , Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (19/03). Tradisi Nyadran yang dilakukan rutin tiap tahun.
Diikuti oleh Muspikel, dan warga masyarakat.
Dalam acara nyadran tsersebut dilaksanakan santunan, sedekah bumi serta berdoa dan tahlil bersama yang dipimpin tokoh agama Kelurahan Gisikdrono. Warga masyarakat menggelar selamatan, bahwa tradisi Nyadran dimaksudkan untuk mendoakan arwah leluhur. Tradisi nyadran yang berkembang saat ini adalah bentuk pelestarian kegiatan dari jaman kademangan.

Nyadran atau Sadranan adalah tradisi yang dilakukan oleh orang jawa yang dilakukan di bulan Sya’ban (Kalender Hijriyah) atau Ruwah (Kalender Jawa) untuk mengucapkan rasa syukur yang dilakukan secara kolektif dengan mengunjungi makam atau kuburan leluhur yang ada di suatu kelurahan atau desa. Nyadran dimaksudkan sebagai sarana mendoakan leluhur yang telah meninggal dunia, mengingatkan diri bahwa semua manusia pada akhirnya akan mengalami kematian, juga dijadikan sebagai sarana guna melestrikan budaya gotong royong dalam masyarakat sekaligus upaya untuk dapat menjaga keharmonisan bertetangga melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama).
Tradisi Nyadran terdiri dari berbagai kegiatan, yakni

Tata cara pelaksanaan tradisi nyadran tidak hanya sekedar ziarah ke makam leluhur tetapi juga terdapat nilai-nilai sosial budaya seperti gotong royong, pengorbanan, ekonomi, menjalin silaturahmi, dan saling berbagi antar masyarakat di suatu lingkungan. Tradisi Nyadran dilakukan dengan kearifan lokal masing-masing sehingga dibeberapa tempat terdapat perbedaan-perbedaan dalam prosesi pelaksanaannya. Dalam perjalanannya terdapat pengembangan-pengembangan dalam prosesi Nyadran yakni dengan memasukkan unsur-unsur budaya, salah satunya yakni dengan menampilkan bebagai kesenian khas daerah tersebut sebagai unsur pertunjukan. Nyadran termasuk sebagai salah satu tradisi menjelang datangnya bulan Ramadan.
